Sungai Besar di Kampung Kecil

Petang ini aku duduk di Harmony Caffe, di pinggiran Sungai Batang Lubuh.
Di hadapanku terhidang segelas green tea dan seporsi tahu goreng yang baru diangkat dari kuali. Di seberang sana, air sungai mengalir lambat. Warnanya keruh kecokelatan, membawa lumpur dan kenangan ke hilir yang tak tau kapan berakhir.

Langit senja perlahan berubah warna.
Burung-burung pulang ke sarang.
Angin petang membawa aroma air dan tanah yang basah.
Aku memandangi sungai itu bak memandangi wajah seorang sahabat lama yang sudah lama tidak kutemui. Wajahnya masih sama, tetapi ada sesuatu yang hilang.
Tiga puluh tahun silam, Sungai Batang Lubuh jauh lebih besar.
Airnya jernih.
Pada musim kemarau, dasar sungai masih terlihat dari tepian. Anak-anak kampung mandi sambil berteriak riang. Perempuan mencuci pakaian di tepian dan lelaki tua melempar pancing sambil bercerita tentang hasil kebun dan cuaca.
Kala itu, sungai tak hanya sekedar sungai.
Ia adalah halaman depan kampung kami.
Ia adalah sekolah.
Ia adalah taman bermain.
Dan bagi seorang anak kecil sepertiku, sungai adalah dunia yang tak berujung.
Aku masih ingat gelondongan balok kayu yang hanyut dari hulu dan tersangkut di pinggiran sungai. Bersama tumpukan ranting dan dahan, kayu-kayu itu membentuk semacam benteng alami di atas air.
Di situlah kami berburu ikan tilan.
Bukan dengan alat pancing mahal.
Bukan dengan teknologi canggih seperti sekarang.
Kami punya cara sendiri yang diwariskan dari anak-anak kampung sebelum kami.
Namanya kajo suruk.
Joran kami hanya kayu kecil sepanjang sehasta. Talinya bahkan tak lebih panjang dari sejengkal tangan. Umpannya cacing kilat yang kami cari sendiri di tanah lembap selepas hujan.
Lalu kail itu kami surukkan ke bawah tumpukan dahan yang terapung di permukaan.
Pelan-pelan.
Hati-hati.
Karena ikan tilan suka bersembunyi di tempat gelap seperti itu.
Saat ujung joran bergerak sedikit saja, jantung kami berdegup lebih cepat.
Kadang kami berhasil.
Kadang tidak.
Tetapi yang kami cari sebenarnya bukan hanya ikan.
Kami sedang mengumpulkan kebahagiaan.
Dan anak-anak kampung sangat pandai menemukan kebahagiaan dari hal-hal sederhana.
Seekor ikan tilan yang berhasil didapat bisa menjadi cerita selama berhari-hari.
Malamnya kami akan membicarakannya lagi.
Besoknya kami akan datang lagi ke tempat yang sama.
Karena masa kecil tidak pernah mengenal kata bosan.
Aku tersenyum sendiri mengingat semua itu.
Sementara di depan mataku, Sungai Batang Lubuh terus mengalir pelan.
Lebih sempit.
Lebih keruh.
Lebih tua.
Seperti menyimpan kelelahan panjang yang tidak pernah sempat diceritakannya kepada siapa pun.
Kadang aku bertanya-tanya.
Apakah sungai juga memiliki ingatan?
Apakah ia masih mengingat anak-anak yang dulu berlarian di tepinya?
Apakah ia masih mengingat kail-kail kecil yang kami surukkan ke bawah tumpukan kayu?
Apakah ia masih mengingat mimpi-mimpi yang lahir di sepanjang alirannya?
Karena sejauh yang kuingat, hidupku bermula dari sini.
Sebagaimana setiap kehidupan memiliki titik awal, maka Sungai Batang Lubuh adalah titik awalku.
Dari sungai inilah aku belajar tentang kesabaran.
Dari sungai inilah aku belajar menunggu.
Dari sungai inilah aku belajar bahwa hasil baik sering datang kepada mereka yang bertahan sedikit lebih lama.
Kampung kecilku bahkan tak dikenal banyak orang.
Namanya nyaris tak pernah muncul di berita.
Tak pernah menjadi tujuan wisata.
Tak ada gedung tinggi.
Tak ada kemewahan.
Hidup kami miskin harta.
Namun kampung kecil itu memiliki kekayaan yang tidak kusadari sampai aku dewasa.
Ia mengajarkanku untuk bermimpi.
Ia mengajarkanku bahwa anak kampung boleh bercita-cita setinggi langit.
Dari tepian Batang Lubuh itulah aku pertama kali memandang dunia yang lebih luas daripada hutan di belakang rumah.
Dari sana aku mulai ingin melihat kota-kota lain.
Negeri-negeri lain.
Laut-laut yang jauh.
Dan jalan-jalan yang belum pernah kulalui.
Kini aku telah bekerja di tengah laut, menyeberangi batas negara, melihat bandara dan kota – kota asing, dan menikmati matahari terbit dari geladak offshore di tengah samudra.
Namun anehnya, setiap perjalanan panjang selalu membawaku kembali ke tempat ini.
Ke sebuah sungai keruh di kampung kecil.
Ke tempat seorang anak miskin pernah duduk memegang joran kayu sehasta.
Ke tempat di mana cita-cita pertama kali menemukan rumahnya.
Matahari mulai tenggelam.
Permukaan Sungai Batang Lubuh memantulkan cahaya senja yang keemasan.
Aku meneguk sisa green tea yang mulai dingin.
Di hadapanku sungai terus mengalir ke hilir.
Dan aku sadar, mungkin manusia memang seperti sungai.
Kita berangkat dari hulu yang sederhana.
Membawa sedikit bekal dan banyak mimpi.
Lalu mengembara jauh mengikuti arus kehidupan.
Namun sejauh apa pun kita pergi, selalu ada satu tempat yang diam-diam menjadi arah pulang.
Bagiku, tempat itu bernama Batang Lubuh.
Sungai besar di kampung kecil yang miskin harta, tetapi telah memberiku kekayaan paling berharga:
keberanian untuk bercita-cita.


Petang redup di pucuk meranti,


Embun pagi di bunga seroja,


Dari Batang Lubuh mimpi bersemi,


Membawa diri menjelajah buana.